Minggu, 27 Maret 2011

Cerpen "Ramadhan Hanguge Isseosseoyo"

Tetesan embun pagi membasahi dedaunan di sepanjang jalan. Kota Seoul yang begitu sibuk, selalu menjadi pemandanganku setiap hari. Angin berhembus begitu dingin hingga menusuk tulang. Aku dapat merasakan hawa Ramadhan yang begitu dekat. Tinggal satu hari lagi menjelang Ramadhan 1431 Hijriyah, yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2010. Beberapa hari menjelang Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, negeriku tercinta.
Musim panas di Korea Selatan yang dimulai bulan Juni bisa mencapai temperatur 40 derajat celcius, yang ditandai dengan datangnya musim hujan yang jatuh pada akhir bulan Juli sampai Agustus di seluruh bagian semenanjung. Semoga saja hujan tidak mengguyur Seoul setiap hari di bulan Ramadhan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan kali ini tanpa masakan Ibu, tanpa celotehan adikku Azzam, dan tanpa Ayah yang selalu menyemangatiku.
Aku kini tinggal di negeri orang. Negeri yang terkenal dengan dunia hiburan, dan pergaulan yang bebas. Tidak sedikit perempuan yang tinggal serumah bersama pasangannya, padahal mereka belum terikat pernikahan. Tidak sedikit artis yang merombak tubuh mereka dengan melakukan operasi plastik, untuk terlihat lebih cantik atau lebih tampan. Minumam keras sudah menjadi menu harian mereka. Apalagi daging babi sudah tidak asing lagi di lidah mereka. Bahkan yang paling menakutkan, tidak sedikit orang yang bunuh diri hanya gara-gara hal yang kecil.
Jika ingin memilih, tentu saja ingin tinggal di negeri sendiri. Kalau bukan karena mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pasca sarjana di Seoul National University (SNU), mungkin aku tidak akan tinggal di Korea Selatan.
Aku tinggal bersama seorang teman dari Indonesia, namanya Marsya. Kami sama-sama mendapat beasiswa untuk kuliah di Seoul National University, di Departemen Fisika dan Astronomi. Hanya saja, Marsya mengambil Program Fisika sedangkan aku mengambil Program Astronomi.
Marsya adalah orang yang berada, sehingga ketika aku memilih untuk tinggal di kos-kosan yang kecil, Marsya mengajak tinggal di apartemennya. Sejak saat itulah kami mulai dekat, apalagi dia juga seorang muslimah sama sepertiku.
Marsya menghampiriku saat jam makan siang di kantin,“Oh ya Ash, besok kan bulan Ramadhan?”
“Ya, bagaimana kalau kita shalat Tarawih di Mesjid Raya Seoul?” Tanyaku menyarankan.
“Ya. pasti banyak umat muslim Seoul berkumpul di sana.” Ucap Marsya nampak gembira.
Aku senang bisa tinggal bersama saudara sesama muslim. Dulu kukira Marsya bukan seorang muslimah. Mungkin karena wajahnya yang lebih mirip orang Eropa dan memang dia seorang Warga Negara Keturunan. Juga dari segi pakaiannya memang belum menutup aurat. Tapi aku yakin, sedikit demi sedikit Marsya bisa berubah.
Selain kuliah, aku juga bekerja di Restauran Timur Tengah. Pemiliknya bernama Umi Khadijah seorang wanita kelahiran Turki yang dibesarkan di Arab Saudi, kemudian mengikuti suaminya yang bekerja di Korea Selatan.
Aku dan Marsya berangkat menuju Mesjid Raya Seoul (Seoul Central Masjid), untuk melaksanakan shalat Isya berjamaah sekaligus shalat Tarawih. Mesjid Raya Seoul terletak di daerah Itaewon, merupakan mesjid tertua dan terbesar di Korea Selatan. Mesjid ini dibangun sekitar tahun 1976. Pada bulan Ramadhan, mesjid ini menyediakan makanan buka puasa. Maka tidaklah heran, mesjid ini juga selalu ramai pada bulan Ramadhan. Mesjid ini juga selalu diisi oleh orang-orang yang mengaji hingga menjelang makan sahur. Ternyata kebiasaan yang berlangsung selama bulan puasa yang dilakukan masyarakat beragama Islam di Indonesia, juga dapat kita temui di Korea Selatan.
Aku dan Marsya pergi menuju Mesjid Raya Seoul dengan menggunakan subway Line no. 6 menuju Statsiun Itaewon. Mesjidnya tidak jauh dari statsiun, cukup hanya berjalan kaki untuk menuju ke sana.


Betapa bahagianya bisa melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama umat muslim yang ada di Korea Selatan. Aku tidak kuat menahan tangis saat itu. Andai bisa shalat berjamaah bersama Ayah, Ibu dan Azzam. Namun aku harus ikhlas menerimanya, semua ini aku lakukan untuk menggapai cita-cita, dan membahagiakan keluarga.
Hal yang menggembirakan, muazin atau pengurus Seoul Central Masjid, Bapak Hasan Sogimin adalah orang Indonesia yang berasal dari Yogyakarta dan sudah bekerja sebagai pengurus mesjid selama 5 tahun. Bapak Hasan pernah juga bekerja di pabrik sebelumnya, tetapi akhirnya diterima sebagai muazin dan tugasnya selain merawat dan menjaga agar mesjid tetap bersih, juga sering medapat tugas untuk mengumandangkan adzan.
Pukul 22.00 aku dan Marsya kembali ke apartemen. Kami merapihkan kamar dan menyiapkan bahan makanan untuk sahur. Sebelum tidur aku menggenapkan tilawah, sedangkan Marsya sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
Pukul 03.30, Marsya membangunkanku, “Ash, bangun!”
“Oh, Marsya. Jam berapa ini?” Tanyaku masih terasa mengantuk.
“Jam setengah empat. Nanti terlambat sahur lho!”
“Oh Marsya, gomawo1. Kalau begitu aku mau masak nasi dulu ya!” Aku bergegas pergi ke dapur. Namun Marsya mencegahku, “Tidak usah, aku sudah menyiapkan dengan lauknya. Kamu tinggal makan saja!”
“Oh Marsya, gamsahamnida2!” Aku begitu gembira dan tidak menyangka Marsya bisa memasak masakan yang enak.
Sebelum melaksanakan sahur, tidak lupa aku melaksanakan shalat Tahajud, karena seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, bahwa hendaklah kita menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan. Sementara itu, Marsya menyiapkan hidangan di meja makan.
Bahagianya Ramadhan pertama di Korea. Meski dengan suasana berbeda, tidak ada kolak, tidak ada cendol dan makanan-makanan khas Ramadhan lainnya. Tidak bisa makan bersama keluarga. Bahkan yang lebih sedihnya, kuliah akan sangat padat pada Bulan Ramadhan.

1,2 Terima kasih

Pagi hari aku berangkat ke kampus. Marsya nampaknya ada kuliah siang. Dia masih menyendiri di apartemen.
“Ash, mau berangkat ke kampus?” Tanya Marsya setelah melihatku mencari sepatu.
“Ne, waeyo?3”
“Ah, aniyo4. Hari ini pakai tas warna apa?”
“Tas warna hitam, wae?”
“Tidak, hanya ingin menyarankan. Kalau tasnya warna hitam, baiknya sepatunya warna hitam.”
“Ne, algetseumnida. Geurom, aku pergi dulu. Assalmu’alaikum.5” Aku pergi dengan terburu-buru. Marsya menjawab salamku, “Wa’alaikumsalam.”
. . .
Program Astronomi di Departemen Fisika dan Astronomi, Seoul National University (SNU), terletak di Gwanak-Gu, Seoul. Terletak di lantai 3 Gedung Nomor 19. Aku biasa menggunakan bus dari apartemen, kemudian berjalan kaki menuju Gedung Astronomi.
Kelas Astrofisika oleh Profesor Hyung Mok Lee dimulai setengah jam lagi, aku menghampiri Kae Na yang sedang sarapan di kantin.“Annyonghaseyô6, sendirian aja nih.”
“Annyeonghaseyo. Ashfiya ssi mwol mogeulkayo?5” Tanya Kae Na, mungkin dia tidak mengetahui kalau aku sedang berpuasa.
“Mianhamnida, jigeumeun geumsik hago issoyô6.”
“Jwesônghaeyô joneun môllayô, myotsi e mogeulsu isseoyo?6”

3 Ya, kenapa?
4 Ah, tidak.
5 Ya, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi dulu, Assalmu’alaikum.
6 Apa kabar?
7 Apa kabar juga. Asfiya mau makan apa?
8 Maaf, sekarang sedang puasa.
9 Maaf saya tidak tahu, jam berapa bisa makan?

“Ohu yeoseot si cheum e meogeulsu iseoyo,10”
“Geuraeyo11. Boleh aku bertanya? Mengapa sih seorang muslim itu harus berpuasa? Apalagi sebulan penuh,” Tanya Kae Na sambil melahap sup ayamnya.
“Tuhan tidak memerintahkan sesuatu yang tidak mengandung hikmah. Dia tidak mendapatkan apapun dari ketaatan hamba-hamba-Nya sedikitpun, dan tidak juga mendapatkan kerugian apapun dari pembangkangan mereka. Hikmah dan ketaatan kembali kepada umat muslim itu sendiri. Diantara hikmah atau manfaat puasa yaitu menyehatkan badan, tidak baik bukan kita terlalu menuruti keinginan perut untuk memakan segala makanan yang akan menimbulkan penyakit. Saat puasa, kita bisa mengontrol makanan yang masuk ke dalam perut kita.” Aku menjelaskan berharap Kae Na mengerti.
“Ne, algetseumnida. Apa hanya itu saja manfaatnya?”
“Sebenarnya ada banyak, dengan berpuasa kita juga bisa merasakan kelaparan seperti orang-orang yang kekurangan. Sehingga kita bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan. Berpuasa juga menahan kita dari nafsu seksual, dan banyak lagi manfaat lainnya, yang kalau dijelaskan kita tidak akan diizinkan masuk ke kelas Profesor Hyung Mok Lee.”
“Geuraeyo. Aku pikir umat muslim hanya menyiksa diri dengan berpuasa. Di lain kesempatan aku ingin menanyakan hal lainnya tentang Islam ya, karena keluargaku selalu beranggapan kalau orang Islam itu adalah teroris. Aku pikir tidak semua orang Islam seperti itu,” Kae Na begitu bersemangatnya berdiskusi denganku.
“Ne, juayo12. Aku senang bisa berdiskusi denganmu.”
Setelah Kae Na selesai sarapan kami bergegas ke kelas, karena kalau sampai Profesor Hyung Mok Lee mendahului kami, bisa-bisa kami diusir ke luar dan tidak diberi ampun.
Pukul 12.00 kuliah selesai, sebelum pulang Kae Na mengajakku bicara di depan kelas.
“Ada apa Kae Na?” Tanyaku penasaran.

10 Bisa makan kira-kira jam 6 malam.
11. Oh begitu.
12 Ya, oke.

“Jwesonghamnida, aku hanya mau bertanya. Apakah kamu yakin Marsya seorang muslim sama sepertimu?”
“Ne, waeyo?”
“Aniyo. Jamkanman, aku merasa pernah melihatnya di gereja. Mungkin aku salah melihat orang. Mianhae13.”
“Ne, gwencanayo14. Mungkin ada orang yang mirip dengan Marsya.”
Saat kami sedang mengobrol, tiba-tiba ada pengumuman bahwa ada mahasiswa yang membawa pistol dan benda tajam di kampus. Mahasiswa tersebut dicurigai merupakan komplotan teroris yang selama ini dicari.
Kami dikumpulkan di Aula SNU, petugas satpam mulai menggeledah seluruh tas mahasiswa, tidak ada mahasiswa yang bisa lari dan meninggalkan kampus.
Satpam mulai menggeledah sebuah tas hitam. Mirip seperti punyaku, dan ternyata mereka mememukan sebuah pistol dan beberapa benda tajam lainnya. Satpam mengacungkan tas itu, “Katakan siapa yang memiliki tas ini?!”
Saat aku hendak mengacungkan tangan. Seseorang mengacungkan tangan terlebih dahulu,“Itu milik saya Pak!“ Ternyata pemilik tas itu adalah Kae Na. Aku baru menyadari kalau tas kami sangat mirip, hanya berbeda merek saja.
Kae Na disuruh menghadap ke kantor. Aku mengikutinya. Tidak ada yang percaya bahwa benda-benda itu milik Kae Na. Aku mencoba membela Kae Na dengan sekuat tenaga, ayah Kae Na yang juga seorang dosen SNU ikut membantu. Akhirnya, karena tidak ada bukti bahwa Kae Na pemilik benda-benda itu, maka Kae Na dibebaskan. Dicurigai ada seseorang yang menyimpan benda-benda itu di dalam tasnya.
Kae Na menghampiriku sebelum pulang,“Ashfiya ssi, gamsahamnida.”
“Terima kasih untuk apa?”

13 Ah tidak. Tetapi aku merasa pernah melihatnya di gereja. Mungkin aku salah melihat orang. Maaf.
14 Ya, tidak apa-apa.

“Kamu telah menjadi saksi, dan meyakinkan satpam bahwa aku tidak bersalah.”
“Kamu memang tidak bersalah kok, tenang saja.”
Kae Na nampak tenang, padahal sebelumnya dia sangat tegang. Aku tidak habis pikir, siapa orang yang tega menejerumuskan Kae Na. Jiwa detektifku mulai muncul. Jangan-jangan target sebenarnya adalah aku? Bukankan tasku sama dengan tas Kae Na? Bahkan sangat susah dibedakan, karena warna dan modelnya sama? Mungkinkah pelakunya salah memasukan, karena tas kami berdekatan? Ya Rabbi lindungilah hamba dari bencana fitnah.
Selesai pemeriksaan aku melaksanakan shalat, mengadukan semuanya pada Sang Pemilik Hati. Setelah itu, aku kembali ke kampus untuk mengerjakan tugas di perpustakaaan. Saat itu perpustakaan nampak sepi pengunjung.

Aku duduk di meja yang disediakan sambil mengerjakan tugas. Entah mengapa aku merasa seperti ada seseorang yang membuntuti. Namun aku menghiraukannya. Mungkin hanya perasaan saja, karena terlalu banyak menonton film detektif. Sehingga selalu merasa dunia penuh dengan misteri.
Setelah selesai mengerjakan tugas, aku pulang ke apartemen.
Pintu kamar nampak terbuka, aku bergegas masuk. Segera ku telpon Marsya,“Assalamu’alaikum. Yeobeoseyo15, Marsya kamu di mana?”
Marsya menjawab dengan nada yang sedikit aneh, “Aku di Restauran Umi Khadijah. Mianhae, tidak mengabarimu. Aku takut sendirian di apartemen. Bukankah sebentar lagi buka puasa? Kamu ke sini aja Ash!”
15 Halo.
“Ne, algetseumnida. Aku segera ke sana,” Aku bergegas mengayuh sepeda menuju Restauran Umi Khadijah. Aku berencana untuk berbuka puasa di sana bersama Marsya.
Sepuluh menit perjalanan menggunakan sepeda, lumayan lelah dan berkeringat. Marsya nampak sedang duduk membaca Koran.
Alarm adzan dari handphoneku berbunyi. Pertanda saatnya berbuka puasa. Alhamdulillah aku bersyukur masih bisa merasakan indahnya bulan Suci Ramadhan, meski di negeri orang dan tidak bersama keluarga.
“Ashfiya ssi, mweol meogeul kayo?” Tanya Umi Khadijah setelah kami melaksanakan shalat Magrib.
“Bokeumbab juseyo. Marsya ssi, mweol meogeul kayo?16” Tanyaku pada Marsya.
“Champung juseyo.17”
“Ne, algetsuemnida. Muoseul masigeseumnika?18” Umi kembali bertanya.
“Ca hago oraenjijuseu juseyo.19”
Umi mengangguk,“Ne, algetseumnida. Jamkanman gidariseyo.20”.
Aku ikut mengangguk juga,“Ne, gamsahamnida.”
Alhamdulillah buka puasa pertama di Restauran Umi Khadijah sungguh nikmat. Umi meliburkan para pegawainya pada hari pertama bulan Ramadhan. Besok aku sudah mulai bekerja lagi, dan untungnya selama bulan Ramadhan Restaurannya buka setelah shalat Ashar sampai sahur. Bulan Ramadhan Restaurannya cukup ramai, umat muslim Korea berbondong-bondong ke Restauran Umi untuk menikmati hidangan Ramadhan, dan yang paling membuatku bahagia, Umi menyediakan kurma, Subhanallah nikmat rasanya.


16 Nasi goreng. Marsya mau makan apa?
17 Champong (makanan khas korea)
18 Ya, saya mengerti. Mau minum apa?
19 Orange juice.
20 Ya saya mengerti. Silakan tunggu sebentar.

Pulang berbuka puasa, aku dan Marsya melaksanakan shalat Tarawih bersama Umi Khadijah. Marsya pulang terlebih dahulu ke apartemen, karena aku ada keperluan sebentar ke supermarket untuk membeli sedikit cemilan dan buah-buahan.
Turun dari Bus Kota, aku berjalan menuju apartemen. Trotoar nampak sepi. Tiba-tiba segerombolan pria menyerang dari belakang, untunglah aku sempat belajar ilmu bela diri Thifan, salah satu ilmu beladiri dari China. Dipelajari di pesantren-pesantren dan masyarakat muslim lainnya. Sehingga aku dapat menahan serangan gerombolan itu. Mereka akhirnya melarikan diri setelah aku membuat mereka babak belur.
Meski dapat menahan serangan gerombolan itu, tetap saja seluruh badanku lebam bahkan penuh luka memar. Aku bangun perlahan. Dengan langkah tertatih, aku berjalan menuju apartemen dan meminta bantuan Marsya untuk mengobati lukaku.
Pukul 02.00 aku terbangun dan melaksanakan shalat Tahajud, tangis yang membuncah tak dapat kucegah saat itu. Rasa yang bercampur aduk, sakit, rindu, dan senang, semuanya terasa sampai akhirnya meledak menjadi air mata yang meleleh tiada henti. Marsya terbangun, dia yang saat itu menenangkanku.
Marsya kemudian menyiapkan masakan untuk sahur. Sahur kali ini terasa begitu nikmat, apalagi bisa shalat Subuh berjamaah bersama Marsya, rasa syukur yang tiada terkira.
Pagi-pagi sekali aku berangkat ke kampus. Udara begitu dingin, aku memakai syal ungu pemberian Ibu. Saat itu aku sangat merindukannya.
Kae Na nampak sedang membaca buku di kantin, aku menghampirinnya.
Profesor Bon Chul Koo nampaknya tidak bisa datang untuk mengajar Radio Astronomi. Penggantinya Mr. Yong Sung Park akan datang terlambat. Aku punya waktu untuk membaca Al Quran.
Setelah kuliah selesai, Kae Na kembali mengajakku mengobrol. “Oia, Ash. Aku mendengar dari sumber yang terpercaya bahwa Marsya bergabung bersama Black Member. Pekerjaan mereka membuat kerusuhan di Seoul, bahkan banyak nyawa yang hilang dan tidak ada orang yang berani melawan mereka. Makanya, aku yakin Marsya itu bukan seorang muslim” Penjelaskan Kae Na membuatku tercengang.
“Aku yakin Marsya tidak mungkin terlibat hal seperti itu, dan sekali lagi aku tegaskan bahwa Marsya adalah seorang muslim. Aku tidak menyangka kamu bisa menjelek-jelekan Marsya. Sudah cukup Kae Na, aku pikir kita bisa berteman baik. Mianhae, aku tidak dapat membiarkan ada orang lain memfitnah Marsya. Aku pergi Kae Na, Aku harap kamu tidak lagi berfikiran buruk tentang Marsya.” Aku berlalu pergi meninggalkan Kae Na.
Aku tidak habis fikir mengapa Kae Na menjelek-jelekan Marsya. Aku tidak boleh terlalu dekat denganya, disamping aku belum terlalu mengenalnya, juga dia bukan seorang muslim. Bagaimana jika dia ingin mengadudomba aku dan Marsya? Aku harus lebih hati-hati bergaul dengan orang Korea.
. . .
Ramadhan di Korea terasa begitu panjang, semoga saja tidak cepat berlalu. Sudah menginjak malam ke dua puluh satu. Aku berencana beri’tikaf bersama keluarga Umi Khadijah. Mudah-mudahan bisa mengambil jatah bolos kuliah.
Setelah menikmati indahnya pemandangan Seoul sore hari, aku pergi ke Myeong dong, sebuah wilayah belanja yang tetap dipadati pengunjung sekalipun pada hari libur. Biasanya aku pergi ke tempat belanja yang lebih murah, yaitu Pasar Dongdaemun yang merupakan pasar pakaian terbesar di Korea dan sangat terkenal oleh para wisatawan, dan Pasar Namdemun yang menjual hampir semua jenis barang kebutuhan: pakaian, peralatan dapur, elektronik, cindera mata, barang-barang seni tradisional, makanan, sepatu, aksesoris, barang-barang impor, dan banyak lagi barang yang dijual di sana. Namun karena kali ini ada uang lebih, sehingga aku putuskan untuk pergi belanja ke Myeong dong.
Aku hanya membeli satu stel pakaian, yang longgar dan tertutup, dan tidak lupa membeli makanan cemilan. Yang paling sering kubeli adalah Welch’s Grape Juice, minuman yang sudah dijamin kehalalannya, dan Lotte Pepero, makanan ringan yang juga sudah terjamin kehalalannya.
Selesai berbelanja aku kembali pulang ke apartemen. Namun, Marsya tidak ada di sana. Mungkin dia ada keperluan sebentar. Tak lama ada telpon berdering.
“Yeobeoseyo, Ashfiya ssi?”
“Ne. Kae Na ssi? waeyo?” Tanyaku heran ketika tahu Kae Na yang menelpon.
“Kamu bisa ke depan gereja di pusat Kota Seoul? Ada yang mau aku tunjukkan padamu.”
“Ne, algetseumnida. Aku segera ke sana.”
Aku bergegas naik Bus Kota menuju ke gereja itu. Memang banyak pertanyaan yang muncul dalam hati, namun aku menahannya. Sepuluh menit bus berhenti tak jauh dari gereja. Aku berjalan ke sana. Nampak Kae Na sudah menunggu.
“Ashfiya, akhirnya kamu datang. Tunggu di sini, aku akan menunjukan sesuatu, kau perhatikan orang-orang yang keluar dari gereja itu,” Kae Na berlalu pergi. Aku memperhatikan orang-orang yang keluar dengan seksama. Rupanya hari itu ada misa di gereja. Namun, betapa kagetnya, ketika seseorang menghantam kepalaku dari belakang hingga jatuh pingsan.
Samar-samar aku membukakan mata. Dihadapanku sudah berdiri segerombolan pria, nampaknya mereka yang menghajarku malam itu. Tangan dan kaki tak dapat kugerakkan, mereka mengikatku di sebuah tiang. Mereka nampak tertawa puas ketika melihatku meringgis kesakitan.
“Kita apakan anak ini?” Tanya salah seorang gerombolan pria itu.
“Nona menyuruh kita menyiksanya. Lalu membunuhnya perlahan, hahaha…” Ucap salah seorang lagi dengan terbahak-bahak.
Badanku menggigil ketakutan. Mungkinkah memang takdirku meninggal seperti ini?, di bulan Suci Ramadhan yang penuh berkah dan pada hari di mana pintu neraka ditutup? Ya Rabb, aku memohon yang terbaik pada-Mu. Aku bergumam dalam hati, air mata meleleh tanpa dapat kucegah. Hanya pertolongan Allah lah yang kuharapkan saat itu.
Salah satu dari mereka memasukan makanan ke mulutku dengan paksa. padahal belum saatnya berbuka puasa. Nampaknya mereka tahu aku sedang melaksanakan puasa. Sekuat apapun aku menjegah, makanan itu tetap saja masuk ke dalam mulut. Aku beristigfar, dan meyakini puasa tidak batal karena hal itu. Sementara pria-pria itu hanya tertawa terbahak –bahak.
Aku terus berfikir. Siapa orang yang tega melakukan ini? Namun, sebelum ada yang menghantam kepalaku, Kae Nan menelpon dan meminta bertemu di depan sebuah gereja. Mungkinkan semua ini ulah Kae Na? Mengapa dia melakukan ini padaku?
Orang-orang yang menculikku nampak sedang lengah. Aku berusaha melepaskan tangan yang diikat dengan menggunakan gigi. Sulit memang hingga aku hampir menyerah, namun talinya terputus juga. Kemudian melepaskan kaki yang diikat, dan akhirnya bisa terlepas juga. Aku berjalan perlahan tanpa menghasilkan bunyi sedikitpun. “Krek!” Tidak sengaja aku menginjak tumpukan sampah plastik. Mereka menyadari nya. “Hei! Jangan kabur! Kejar dia!” Teriak salah seorang dari mereka sambil mengerjarku. Dengan tenaga yang tersisa aku berlari sekencang mungkin, sampai ke sebuah jalan raya. Mereka terus mengejar, namun tiba-tiba seseorang terlihat melambaikan tangan,“Ashfiya! Cepat lari!” Ucap wanita itu sambil berteriak. Setelah kuamati ternyata wanita itu adalah Kae Na. Ia menghampiriku.
“Ashfiya ssi, gwencana?21 Kelompok Black Member lah yang menculikmu. Ayo kita pergi dari sini!”
“Ne, gwencanayo,” Ucapku masih bingung harus mempercayai Kae Na atau tidak.
“Ashfiya awas!” Teriak Kae Na sambil mendorong badanku ke samping. “Door!!!” Peluru pun melesat menuju tubuh Kae Na. “Bruk!” Tubuh Kae Na tergeletak di jalan, ia tertembak oleh salah satu pria yang menculikku. Mereka pun melarikan diri setelah menembak Kae Na.
Aku berteriak histeris, “Kae Na!!!” aku memeluk tubuh Kae Na. “Kae Na, kenapa kamu lakukan ini? Harusnya aku yang tertembak bukan kamu!” Tak terasa air mataku meleleh tiada henti.
“Kamu adalah sahabatku Ash, aku tidak akan membiarkan kamu mati. Percayalah padaku, Marsya itu tidak sebaik yang kamu pikirkan.”
“Iya Kae Na, aku percaya. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan ini!”
“Aniyo. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku, dan aku ingin kamu mengabulkan satu permintaan, sebelum aku mati Ash”
“Anyi!22 Kamu tidak boleh mati Kae Na!”

21 Ashfiya, tidak apa-apa?
22 Tidak!

“Tolong Ash, bantu aku mengucapkan syahadat.”
“Subhanallah, Walhamdulillah, Walaillahaillallah, Allahuakbar! Baik Kae Na dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku akan menuntunmu mengucapkan kamilat syahadat,” Aku sedikit gemetar, tangis bahagia bercampur sedih mengalir tiada henti.
Dengan terbata Kae Na mengikutiku mengucapkan dua kamilat syahadat. Tak lama kemudian tubuh Kae Na nampak pucat dan sangat dingin seperti es. “Innalillahi wainnaillaihi raaji’un.” Kae Na telah pergi menghadap Sang Khalik sebagai muslimah. Bahagia bercampur sedih, itulah yang aku rasakan saat kepergian Kae Na.
Kasus pembunuhan Kae Na sudah ditangani polisi. Gerombolan Black Member itu tidak bisa lagi berkutik, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan pada Kae Na. Aku menuju kantor polisi pusat Kota Seoul untuk menjadi saksi, dan begitu terkejutnya aku saat melihat Marsya dalam tahanan. Dia berpakaian hitam, dengan lengan pendek, sehingga tato di kedua lengannya dapat terlihat. Kelopak matanya dan bibirnya berwarna hitam. Aku menyadari, Marsya dan kelompoknya ternyata para pemuja setan. Yang rela melakukan apapun agar Islam dan dunia ini hancur, semoga Allah melaknat mereka.
Setelah pindah dari apartemen milik Masrya, kuputuskan untuk tinggal di Itaewon, agar lebih berdekatan dengan Mesjid Raya Seoul. Lagi pula tidak terlalu jauh ke kampus Seoul National University
Aku tidak menyangka Marsya bisa berpura-pura sebagai seorang muslimah, padahal entah apa sebenarnya agamanya, tidak ada yang tahu. Aku menyesal begitu mempercayainya, dan menaganggapnya sebagai saudara. Namun, dia malah menikamku dari belakang, sungguh rasa sakitnya tiada terkira. Aku malah mengabaikan nasehat dari Kae Na, yang jelas-jelas baik dan berkata jujur.
Sungguh Ramadhan kali ini penuh dengan kejutan, penuh dengan hikmah yang tidak mungkin terlupakan. Semoga aku dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang terjadi, dan kupinta pada-Mu Ya Rabb, terimalah Kae Na disisi-Mu sebagai seorang muslimah, dan pertemukanlah kami di Syurga-Mu, amin.
(dimuat juga di blogku Purple Muslimah)

Cerpen "Biarkan Takdir Memilih"

Biarkan Takdir Memilih
Angin menerbangkan daun-daun di halaman rumah. Aku duduk di teras sambil menikmati hangatnya mentari pagi. Suasana yang tidak pernah aku dapatkan di negeri sakura, tempatku menimba ilmu. Namun sekarang, suasana seperti ini bisa aku nikmati setiap pagi, karena aku sudah kembali ke negeri yang kurindukan.
Ibu memanggilku, “ Linda, sarapan dulu. Ibu sudah bikin opor ayam kesukaanmu”.
“Iya Bu sebentar”, ucapku segera masuk ke dalam rumah.
“Kak, makanan di Jepang enak-enak nggak?”, tanya Lida adikku. Membuka obrolan di meja makan.
“Ya gitu deh, Kakak suka makanan Jepang, tapi yang halal. Jadi di tempa-tempat tertentu saja kita bisa menikmatinya”, ucapku sambil melahap opor ayam.
“Bagaimana kuliahmu, Lancar?”, tanyaku.
“Alhamdulillah, kuliah jurusan IPS nggak akan sesulit kuliah jurusan IPA”, jawab Lida.
“Ada rencana ngelanjutin S2 nggak, tahun ini kamu lulus kan?”, aku bertanya lagi.
“Enggak ah, mau nikah dulu. Lagian Lida nggak terlalu terlalu tertarik ngelanjutin kuliah kayak Kakak”, jawab Lida.
“Beda ya, yang udah mau nikah, hehe”, ucapku meledek Lida.
“Kakak duluan kali, masa udah S2, udah dapet pekerjaan tetap, masih belum mau nikah juga”, ucap Lida menyindirku.
“Iya, doain aja Kakak udah minta Umi Firda, guru ngaji Kakak untuk mencarikan jodoh. Makanya besok anter Kakak di foto ya. Buat dikasihin ke Umi Firda”, ucapku menjelaskan.
“Duh, ternyata udah siap nih. Iya, nanti Lida anter deh, sekalian Lida juga mau di foto buat keperluan wisuda”, ucap Lida menyanggupi.
“Anak-anak Ibu ini sudah besar, nggak kerasa Ibu membesarkan kalian berdua. Iya Linda, cepetan nikah, Ibu udah nggak sabar pengen nimang cucu”, ucap Ibu berkomentar.
“Iyah, ayah juga. Udah nggak sabar, kalo Linda nikah, Lida juga cepet nyusul ya”, ayah menambahkan.
“Ayah sama Ibu ini, Linda belum nikah juga, udah mikirin cucu. Makanya doain biar cepet dapet jodoh”, ucapku membuat semuanya tersenyum.
Selesai sarapan. Aku pergi untuk mengajar di sebuah universitas di Jakarta. Mungkin, aku dosen termuda di sana. Tapi aku tetap semangat dan tidak minder, aku selalu belajar dari dosen-dosen yang sudah berpengalaman, dan dengan senang hati mereka membimbingku.
Agak berat memang menyandang status dosen lajang yang baru berusia 25 tahun. Banyak yang menanyakan, mengapa aku tidak kunjung menikah. Ibu dan Ayah juga sempat khawatir, karena aku lebih menginginkan melanjutkan kuliah ketimbang mencari jodoh. Sebenarnya, ketika lulus S1 aku sudah berencana menikah, tapi belum ada ikhwan yang mau berta’aruf, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jepang saja, sambil menunggu jodoh itu datang.
Kadang aku berfikir, apakah karena penampilan sehingga tidak ada ikhwan yang mau menikah denganku. Tapi aku yakin, ada ikhwan yang tidak menghiraukan soal itu. Namun, aku harus bersabar menunggu ikhwan seperti itu datang melamar. Mungkin berbeda dengan adikku Lida, sudah ada lima orang yang datang ke rumah ingin melamarnya, meski dia masih kuliah. Namun, karena Lida belum sreg karena alasan agama, kelima pria itu ditolaknya.
Lida gadis yang cantik, feminim dan anggun. Tak heran banyak ikhwan yang mau melamarnya. Sedangkan aku, gadis berkacamata, berkulit sawo matang, dan tidak menghiraukan penampilan. Bukan aku tidak bersyukur, tetapi apa salah jika seseorang mempunyai kekurangan fisik. Aku yakin ikhwan yang tidak menghiraukan semua itu ada di dunia ini.
Setelah mengajar, aku bertemu dengan Lida untuk di foto. Aku melepas kacamata ketika di foto, dan kami harus menunggu satu jam untuk mengambil foto yang telah jadi.
“Lida, kata ibu sudah banyak ikhwan yang datang ke rumah melamarmu. Kenapa enggak diterima aja, emangnya enggak ada yang cocok ya?”, tanyaku membuka obrolan. Kami makan siang bersama di sebuah Mall.
“Ah Kakak ini bisa aja, enggak banyak kok. Lida belum sreg aja kalo belum satu fikiran, lagian Lida mau minta carikan ke guru ngaji Lida kan Kak?”, ucap Lida menjelaskan.
“Iya, kalo guru ngajimu udah nemuin ikhwan yang mau sama kamu, ya harus diterima dong”, ucapku.
“Lida kan mau nungguin Kakak dulu”, ucap Linda membuatku terdiam.
“Enggak apa-apa kok, kalo kamu mau duluan”, ucapku menjelaskan.
“Bener nih? Hehe. Udah ah, jangan ngebahas itu lagi, Lida lagi nggak mut ngomongin itu”, ucap Linda lagi-lagi membuatku terdiam.
Satu jam sudah kami makan di café. Segera kami mengambil foto yang telah jadi. Lida dan aku langsung menyimpan fotonya ke dalam tas, tanpa memeriksanya terlebih dahulu, karena aku buru-buru hendak pergi ke rumah Umi Firda untuk memberikan fotonya. Aku berpisah dengan Lida, dia segera pulang ke rumah setelah mengambil foto.
Sesampainya di rumah Umi Firda, aku langsung mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam, Linda ayo silakan masuk”, ucap Umi membukakan pintu.
“Afwan ya Umi, Linda ganggu”, ucapku.
“Enggak apa-apa, Umi lagi enggak ada kerjaan kok. Oia, tumben ke sini sore-sore”, ucap Umi penasaran.
“Ini Umi, mau ngasihin foto yang Umi tanyain kemaren”, ucapku menjelaskan.
“Oh, iya. Umi lupa, ya sudah nanti Umi kabari secepatnya kalo ada ikhwan yang cocok”, ucap Umi sambil tersenyum.
“Iya Mi, syukran ya, Linda nggak bisa lama-lama sudah di tunggu Ibu sama Ayah di rumah. Katanya mau pergi ke rumah saudara”, setelah menyerahkan foto aku pamit pulang.
“Ya sudah kalo begitu, salam buat keluarga ya”, ucap Umi sambil mengantarkanku ke pintu.
“Insya Allah Linda sampaikan, assalamu’alaikum”, ucap sambil menyalami Umi.
“wa’alaikumsalam, hati-hati di jalan”, ucap Umi membalasnya.
Sekarang aku tinggak menunggu kabar dari Umi, semoga saja secepatnya.
. . .
Satu minggu berlalu, akhirnya ada seorang ikhwan dan keluarganya yang datang ke rumah.
“Assalamu’alaikum”, salah satu keluarganya mengentuk pintu rumah.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk”, ucap Ibu ramah.
“Maaf, benar ini rumahnya Meylinda?”, tanya salah satu dari mereka.
“Iya benar, mari silakan duduk”, ucap ayah.
Bahagia rasanya hati ini, mendengar ada ikhwan yang datang ke rumahku bermaksud ta’aruf.
“Ini Meylinda”, Ibu menunjukkan tangannya ke arahku.
“Oh bukan yang ini Bu, Meylinda yang kami maksud tidak memakai kaca mata”, ucapnya membuat kami bingung.
“Mungkin maksud bapak Meylida, yang ini bukan?”, Ibu akhirnya menunjuk adikku Lida.
“Ya benar, maksud kami anak Ibu yang ini”, keluarganya membenarkan.
Ternyata mereka mencari Meylida bukan Meylinda. Rasa kecewa kembali hadir menghantuiku. Ikhwan itu bermaksud ta’aruf dengan Lida bukan denganku. Guru ngajinya Lida yang mencarikan ikhwan itu. Nampaknya Lida juga ada kecenderungan dengan ikhwan itu, aku bisa melihat dari sikapnya.
Keluarga kami belum memberikan keputusan untuk menerima ikhwan itu atau tidak. Ikhwan itu akan datang bersama keluarganya lagi, apabila Lida setuju untuk berta’aruf dengannya.
Kami sekeluarga akhirnya berembug.
“Bagaimana Lida, kamu mau berta’aruf dengan pria itu?”, tanya ibu membuka obrolan di ruang keluarga.
“Lida mau istikharah dulu Bu, tapi memangnya Ibu setuju kalo Lida ta’aruf sama dia?”, Lida balik bertanya.
“Ibu sih setuju-setuju saja, kalo kamu ada kecenderungan sama pria itu. Tapi, gimana dengan Kakakmu?”, ucap Ibu membuatku terdiam sejenak.
“Iya, biarlah Kakakmu menikah duluan”, ucap ayah menambahkan.
“Kalo Linda sih, enggak apa-apa Bu. Linda ikhlas kalo Lida dihitbah dan menikah duluan. Kasian Lida Bu, masa Cuma gara-gara aku, pernikahannya ditunda. Padahalkan udah ada ikhwan yang sholeh ngelamar”, ucapku berkomentar.
“Ya sudah kalo begitu, tinggal kamu istikharah dulu Lida”, ucap Ibu membuat Lida terlihat bahagia.
Aku harus rela jika Lida menikah duluan. Toh kalau pun Lida mau menungguku, mau sampai kapan?. Belum tentu dalam waktu dekat ada ikhwan yang mau berta’aruf denganku.
Namun yang membuatku heran, bukankah Lida pernah mengatakan bahwa dia belum meminta dicarikan jodoh kepada guru ngajinya. Mengapa sudah ada pria yang datang?. Mungkin saja setelah mengatakan itu, Lida langsung meminta guru ngajinya untuk mencarikan jodoh. Semoga saja Lida mendapatkan jodoh yang sholeh yang benar-benar menyayanginya.
Seminggu lagi pria itu akan datang ke rumah, Lida sudah tidak sabar menantinya. Dia pun telah beristikharah meminta petunjuk padaNya.
“Ayah, Ibu, Kakak, kemaren Lida sudah mendapat jawabannya”, ucap Lida membuka obrolan di meja makan.
“Oh ya, jawabannya apa?”, tanya ibu penasaran.
“Abis shalat istikharah, Lida tertidur, trus Lida bermimpi kalo pria itu tinggal di rumah kita. Itu berarti Allah meridhai Lida nikah sama dia”, Lida menceritakan dengan penuh semangat.
“Ya sudah kalau kamu yakin, semoga ini memang yang terbaik”, ucap ibu membuat Lida tersenyum.
“Amin”, nampaknya Lida semakin yakin dengan pilihannya.
Tiba-tiba Umi Firda menelpoku, “Assalamu’laikum…”.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Umi? Tumben pagi-pagi udah nelpon?”, tanyaku heran.
“Gimana ikhwannya Lin? Dua haru yang lalu ada ikhwan yang datang ke rumah kan?, udah istikharah belum?, afwan Umi nggak bisa dateng, soalnya ada keperluan ke luar kota bersama suami”, ucap umi membuatku bingung.
“Maksudnya ikhwan yang mana Mi?”, tanyaku heran.
“Itu, Nak Rafi, sudah datang belum?”, pertanyaan Umi membuatku kaget bukan main.
“Rafi? Maksud Umi Rafi itu ikhwan yang mau berta’aruf denganku?”, tanyaku masih tidak percaya.
“Iya, sudah datang belum?”, Umi kembali bertanya.
“Ya sudah, Umi ngobrolnya nanti lagi ya. Nanti Linda dateng ke rumah Umi”, ucapku menyudahi obrolan.
“Ya sudah, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”, jawabku.
Aku tak dapat mengatakan sepatah katapun saat itu. Rafi, pria yang akan melamar adikku, ternyata dia adalah pria yang seharusnya berta’aruf denganku. bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengatakannya pada Lida, dia pasti akan kecewa. Sebenarnya memang aku yang ceroboh, ternyata fotoku tertukar dengan foto Lida.
Aku memutuskan untuk diam, biarlah adikku dulu yang mendapatkan jodohnya. Aku akan menjelaskan pada Umi Firda, semoga dia menngerti.
. . .
Pria itu akhirnya datang lagi ke rumah, bermaksud untuk melamar Lida. Kami sekeluarga menyambut dengan ramah. Mereka mengobrol banyak dengan ayah dan ibu, Lida hanya diam mendengarkan. Sementara aku memilih sibuk di dapur saja.
“Jadi, bagaimana Bu, kira-kira kapan tanggal pernikahan yang tepat untuk anak-anak kita?”, tanya ayah Rafi langsung ke intinya.
“Mungkin sebelum Lida di wisuda saja, bagaimana?”, ayah balik bertanya.
“Bukannya, Lida sudah lulus S2 di Jepang?”, tanya ayah Rafi membuat Ayah dan Ibu kebingungan.
“Lida itu baru mau lulus Sarjana semester ini Pak, yang S2 di Jepang itu anak kami yang satu lagi Meylinda”, ucap ibu membuat Rafi dan keluarganya juga bingung.
Akhirnya keluarga Rafi baru menyadari ternyata foto yang diberikan Umi Firda pada Rafi adalah foto Lida. Sedangkan yang mereka maksudkan untuk berta’aruf dengan Rafi adalah aku. Ibu kemudian memanggilku untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
“Maaf sebelumnya, memang foto kami tertukar. Foto yang saya berikan pada Umi Firda adalah foto Lida. Saya juga baru menyadarinya setelah Umi Firda menelpon kemarin. Saya begitu kaget dengan apa yang terjadi. Tetapi, saya ikhlas jika Rafi dan Lida sudah cocok dan meneruskan proses ta’aruf ini. Lagi pula Rafi sudah menghitbah Lida, dan tinggal menentukan tanggal pernikahan”, ucapku menjelaskan.
Semua orang di ruang tamu hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasanku. Aku kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Air mata meleleh tidak terasa, mungkin memang Allah belum mengirimkan mujahid terbaiknya, aku masih harus bersabar menunggu kedatangannya.
Lida akhirnya menikah dengan Rafi, aku sudah mengira Rafi lebih memilih Lida yang cantik dan anggun ketimbang aku yang tidak pernah memperhatikan penampilan. Sebulan setelah pernikahan mereka, akhirnya Allah mendatangkan seorang mujahid terbaiknya untukku. Namanya Fariq, seorang dosen salah satu Universitas di Jakarta. Dengan mempunyai profesi yang sama, kami lebih nyambung, dan mudah untuk menyesuaikan diri.
Satu tahun setelah menikah, aku dan suami dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu. Namun, kebahagiaan tidak dirasakan adikku Lida, setelah tiga bulan pernikahannya dengan Rafi. Rafi meninggal karena kecelakaan motor. Diusia semuda itu, adikku harus menjadi janda. Dia sangat sedih dan terpukul, kami sekeluarga selalu menghiburnya, karena disetiap musibah yang terjadi tentu akan ada hikmahnya.
Tasikmalaya, 30 January 2010

Puding Merah Putih

Assalamu'alaikum.....
berbagi resep yuk....

Bahan 1:
Agar-agar red 1 bungkus
Gula putih 125 gram
biji selasih satu sendok makan
Air 600 ml

Bahan 2:
Agar agar putih 1 bungkus
Putih telur dari 2 buah telur,kocok sampai kaku
Susu cair 300 ml
Air 200 ml
Gula putih 125 gram

Cara :
1. Masak bahan 1 sampai mendidih, masukkan biji selasih. Angkat, tuangkan dalam loyang atau cetakan.
2. Masak bahan 2 sampai mendidih, masukan putih telur yang sudah kaku. Aduk rata. Tuangkan diatas bahan 1, sebelum mengeras benar. Dinginkan, dan sajikan.

Sabtu, 09 Januari 2010

Wanita seperti bunga







Kecintaan dan kesenangan saya pada bunga, tumbuh semenjak saya beranjak dewasa. Mungkin saat itu naluri kewanitaan saya benar-benar tumbuh…^^. Saya belum menemukan wanita yang tidak suka bunga, kecuali mungkin karena dia punya pengalaman buruk yang berkaitan dengan bunga. Bahkan tidak hanya wanita, saya menemukan pria yang juga menyenangi bunga, tidak berarti seorang pria mempunyai kelainan kan jika dia menyukai bunga? Meski memang bunga sering diidentikan dengan wanita. Ya, saya mengerti, Karena bunga mirip dengan wanita, indah dan mempesona…^^ setuju??.

Semua bunga saya suka, meski saya sedikit terganggu dengan salah satu bau bunga yang menyengat, yaitu bunga bangkai. Saya pikir, ada rahasia dibalik baunya, dari mana asalnya dan mengapa bisa demikian? Saya belum mempelajarinya lebih dalam.
Saya punya keinginan kuat untuk membuat taman bunga dan memelihara banyak bunga. Namun kondisi sekarang belum memungkinkan. Saya masih seorang mahasiswa yang harus menyelesaikan study, di tempat saya tinggal pun tidak ada lahan kosong untuk menanam bunga, saya pernah mencoba menanam di pot, namun ternyata tumbuhnya tidak maksimal. Ditambah lagi, menanam bunga supaya tumbuh subur dan indah memerlukan biaya yang tidak sedikit, sedangkan saya belum mempunyai penghasilan yang tetap. Semoga ketika saya mempunyai rumah sendiri dengan halaman yang luas, saya dapat membuat taman bunga, amin.
Berapa banyak bunga yang anda kenal? Tentunya banyak, dan terkadang kita melihat bunga, namun tidak tahu nama dan jenis bunga itu. Beberapa bunga diantaranya, adalah :
1. Bunga mawar
Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter.

2. Bunga melati
Melatix Salam merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Indonesia, salah satu jenis melati dijadikan sebagai simbol nasional yaitu melati putih (Jasminum sambac) karena bunganya dikaitkan dengan berbagai tradisi dar banyak suku di negara ini. Jenis lain yang juga populer adalah melati gambir (J. officinale).

3. Bunga anggrek
Suku anggrek-anggrekan atau Orchidaceae merupakan satu suku tumbuhan berbunga dengan anggota jenis terbanyak. Jenis-jenisnya tersebar luas dari daerah tropika basah hingga wilayah sirkumpolar, meskipun sebagian besar anggotanya ditemukan di daerah tropika. Kebanyakan anggota suku ini hidup sebagai epifit, terutama yang berasal dari daerah tropika. Anggrek di daerah beriklim sedang biasanya hidup di tanah dan membentuk umbi sebagai cara beradaptasi terhadap musim dingin. Organ-organnya yang cenderung tebal dan "berdaging" (sukulen) membuatnya tahan menghadapi tekanan ketersediaan air. Anggrek epifit dapat hidup dari embun dan udara lembab.

4. Bunga teratai
Teratai (Nymphaea) adalah nama genus untuk tanaman air dari suku Nymphaeaceae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai water-lily atau waterlily. Di Indonesia, teratai juga digunakan untuk menyebut tanaman dari genus Nelumbo (lotus). Pada zaman dulu, orang memang sering mencampuradukkan antara tanaman genus Nelumbo seperti seroja dengan genus Nymphaea (teratai). Pada Nelumbo, bunga terdapat di atas permukaan air (tidak mengapung), kelopak bersemu merah (teratai berwarna putih hingga kuning), daun berbentuk lingkaran penuh dan rimpangnya biasa dikonsumsi.

5. Bunga lotus
Nelumbo nucifera, yang lebih dikenal dengan nama lotus, sering disamakan orang dengan teratai (nymphaea) karena memang masih satu keluarga.Pesona bunganya saat mekar penuh, membuat lotus disukai sebagai tanaman hias, yang ditanam di air dan lumpur.
Bunga lotus yang selama ini beredar di pasaran memiliki kelopak yang besar dan tunggal (tidak bersusun). Kini, muncul jenis baru, yakni lotus yang memiliki kelopak ganda (susun), yang membentuk ‘topping’, seperti halnya bunga matahari. Selain di rawa atau di kolam hias, cara menanamnya juga bisa di dalam wadah-wadah air bermulut lebar (tempayan).

6. Bunga aster
Bunga aster adalah jenis bunga dengan beragam warna. Sering sijumpai di berbagai acara.

7. Bunga lavender
Lavender atau lavendel atau Lavandula adalah sebuah genus tumbuhan berbunga dalam suku Lamiaceae yang memiliki 25-30 spesies. Asal tumbuhan ini adalah dari wilayah selatan Laut Tengah sampai Afrika tropis dan ke timur sampai India. Genus ini termasuk tumbuhan menahun, tumbuhan dari jenis rumput-rumputan, semak pendek, dan semak kecil. Tanaman ini juga menyebar di Kepulauan Kanari, Afrika Utara dan Timur, Eropa selatan dan Mediterania, Arabia, dan India. Karena telah ditanam dan dikembangkan di taman-taman di seluruh dunia, tumbuhan ini sering ditemukan tumbuh liar di daerah di luar daerah asalnya.

8. Bunga eidelwies
Bunga Eidelweis itu adalah tumbuhan yang banyak terdapat di daerah pegunungan. Ia hanya dapat tumbuh di daerah dataran tinggi. Edelweis mempunyai nama latin, yaitu Anaphalis javanica.

9. Bunga sakura
Sakura dapat terlihat di mana-mana di Jepang, diperlihatkan dalam beraneka ragam barang-barang konsumen, termasuk kimono, alat-alat tulis, dan peralatan dapur. Bagi orang Jepang, sakura merupakan simbol penting, yang kerap kali diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, serta juga merupakan simbol untuk mengeksperesikan ikatan antarmanusia, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan. Sakura juga menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal.

10. Bunga matahari
Bunga matahari (Helianthus annuus L.) adalah tumbuhan semusim dari suku kenikir-kenikiran (Asteraceae) yang populer, baik sebagai tanaman hias maupun tanaman penghasil minyak. Bunga tumbuhan ini sangat khas: besar, biasanya berwarna kuning terang, dengan kepala bunga yang besar (diameter bisa mencapai 30cm). Bunga ini sebetulnya adalah bunga majemuk, tersusun dari ratusan hingga ribuan bunga kecil pada satu bongkol. Bunga matahari juga memiliki perilaku khas, yaitu bunganya selalu menghadap ke arah matahari atau heliotropisme. Orang Perancis menyebutnya tournesol atau "pengelana matahari". Namun demikian, sifat ini disingkirkan pada berbagai kultivar baru untuk produksi minyak karena memakan banyak energi dan mengurangi hasil.

11. Bunga dahlia
Dahlia adalah tanaman perdu berumbi yang sifatnya tahunan (perenial), berbunga di musim panas sampai musim gugur. Dahlia adalah bunga nasional negara Meksiko yang juga merupakan negara asal bunga ini.
Dahlia termasuk bunga yang terlambat dikembang-biakkan. Pada tahun 1872, negeri Belanda menerima sekotak umbi Dahlia yang dikirim dari Meksiko. Dari sekotak umbi bunga Dahlia ternyata hanya satu umbi yang berhasil berbunga namun menghasilkan bunga indah berwarna merah dengan daun bunga yang runcing. Ahli tanaman berhasil mengembang biakkan Dahlia yang kemudian dinamakan Dahlia juarezii. Dahlia juarezii merupakan nenek moyang semua bunga Dahlia hibrida (persilangan) yang terdapat sekarang ini.

12. Bunga tulip
Tulip (Tulipa) merupakan nama genus untuk 100 spesies tumbuhan berbunga yang termasuk ke dalam keluarga Liliaceae. Tulip berasal dari Asia Tengah, tumbuh liar di kawasan pegunungan Pamir dan pegunungan Hindu Kush dan stepa di Kazakhstan. Negeri Belanda terkenal sebagai negeri bunga tulip. Tulip juga merupakan bunga nasional Iran dan Turki.

13. Bunga bangkai
Bunga bangkai atau suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatera, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m. [1] Namanya berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Bunga bangkai juga sering digunakan sebagai julukan bagi patma raksasa Rafflesia arnoldii. Di alam tumbuhan ini hidup di daerah hutan hujan basah. Bunga bangkai adalah bunga resmi bagi Provinsi Bengkulu.

14. Bunga sepatu
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak suku Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Bunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu.

Sebenarnya saya lebih banyak mempelajari bunga lewat internet, dibanding melihat atau menanam langsung. Banyak sumber yang bisa kita jadikan sebagai referensi.Dan sebenarnya jenis bunga masih banyak lagi. Dan tiap bunga juga mempunyai banyak keistimaan, secara lebih jelas Insya Allah akan dijelaskan di lain kesempatan, selamat menjadi Wanita seperti bunga, tapi jangan bunga bangkai ya... jazakumullah....

sumber : Wikipedia Indonesia

Selasa, 24 November 2009

Salam Pembuka....^_^



Assalamualaikum....warahmatullah wabarakatuh...
Apa kabar saudaraku yang dirahmati Allah....
semoga senantiasa selalu dalam naunganNya...

Ana ingin berbagi dalam blog ini tentang ilmu, dan pengalaman.

Untuk kali ini ana belum bisa menuliskann sesuatu, namun Insya Allah setelah ada inspirasi...tulisan akan segera diterbitkan..
jazakallah khairan katsir...