Minggu, 27 Maret 2011

Cerpen "Ramadhan Hanguge Isseosseoyo"

Tetesan embun pagi membasahi dedaunan di sepanjang jalan. Kota Seoul yang begitu sibuk, selalu menjadi pemandanganku setiap hari. Angin berhembus begitu dingin hingga menusuk tulang. Aku dapat merasakan hawa Ramadhan yang begitu dekat. Tinggal satu hari lagi menjelang Ramadhan 1431 Hijriyah, yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2010. Beberapa hari menjelang Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, negeriku tercinta.
Musim panas di Korea Selatan yang dimulai bulan Juni bisa mencapai temperatur 40 derajat celcius, yang ditandai dengan datangnya musim hujan yang jatuh pada akhir bulan Juli sampai Agustus di seluruh bagian semenanjung. Semoga saja hujan tidak mengguyur Seoul setiap hari di bulan Ramadhan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan kali ini tanpa masakan Ibu, tanpa celotehan adikku Azzam, dan tanpa Ayah yang selalu menyemangatiku.
Aku kini tinggal di negeri orang. Negeri yang terkenal dengan dunia hiburan, dan pergaulan yang bebas. Tidak sedikit perempuan yang tinggal serumah bersama pasangannya, padahal mereka belum terikat pernikahan. Tidak sedikit artis yang merombak tubuh mereka dengan melakukan operasi plastik, untuk terlihat lebih cantik atau lebih tampan. Minumam keras sudah menjadi menu harian mereka. Apalagi daging babi sudah tidak asing lagi di lidah mereka. Bahkan yang paling menakutkan, tidak sedikit orang yang bunuh diri hanya gara-gara hal yang kecil.
Jika ingin memilih, tentu saja ingin tinggal di negeri sendiri. Kalau bukan karena mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pasca sarjana di Seoul National University (SNU), mungkin aku tidak akan tinggal di Korea Selatan.
Aku tinggal bersama seorang teman dari Indonesia, namanya Marsya. Kami sama-sama mendapat beasiswa untuk kuliah di Seoul National University, di Departemen Fisika dan Astronomi. Hanya saja, Marsya mengambil Program Fisika sedangkan aku mengambil Program Astronomi.
Marsya adalah orang yang berada, sehingga ketika aku memilih untuk tinggal di kos-kosan yang kecil, Marsya mengajak tinggal di apartemennya. Sejak saat itulah kami mulai dekat, apalagi dia juga seorang muslimah sama sepertiku.
Marsya menghampiriku saat jam makan siang di kantin,“Oh ya Ash, besok kan bulan Ramadhan?”
“Ya, bagaimana kalau kita shalat Tarawih di Mesjid Raya Seoul?” Tanyaku menyarankan.
“Ya. pasti banyak umat muslim Seoul berkumpul di sana.” Ucap Marsya nampak gembira.
Aku senang bisa tinggal bersama saudara sesama muslim. Dulu kukira Marsya bukan seorang muslimah. Mungkin karena wajahnya yang lebih mirip orang Eropa dan memang dia seorang Warga Negara Keturunan. Juga dari segi pakaiannya memang belum menutup aurat. Tapi aku yakin, sedikit demi sedikit Marsya bisa berubah.
Selain kuliah, aku juga bekerja di Restauran Timur Tengah. Pemiliknya bernama Umi Khadijah seorang wanita kelahiran Turki yang dibesarkan di Arab Saudi, kemudian mengikuti suaminya yang bekerja di Korea Selatan.
Aku dan Marsya berangkat menuju Mesjid Raya Seoul (Seoul Central Masjid), untuk melaksanakan shalat Isya berjamaah sekaligus shalat Tarawih. Mesjid Raya Seoul terletak di daerah Itaewon, merupakan mesjid tertua dan terbesar di Korea Selatan. Mesjid ini dibangun sekitar tahun 1976. Pada bulan Ramadhan, mesjid ini menyediakan makanan buka puasa. Maka tidaklah heran, mesjid ini juga selalu ramai pada bulan Ramadhan. Mesjid ini juga selalu diisi oleh orang-orang yang mengaji hingga menjelang makan sahur. Ternyata kebiasaan yang berlangsung selama bulan puasa yang dilakukan masyarakat beragama Islam di Indonesia, juga dapat kita temui di Korea Selatan.
Aku dan Marsya pergi menuju Mesjid Raya Seoul dengan menggunakan subway Line no. 6 menuju Statsiun Itaewon. Mesjidnya tidak jauh dari statsiun, cukup hanya berjalan kaki untuk menuju ke sana.


Betapa bahagianya bisa melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama umat muslim yang ada di Korea Selatan. Aku tidak kuat menahan tangis saat itu. Andai bisa shalat berjamaah bersama Ayah, Ibu dan Azzam. Namun aku harus ikhlas menerimanya, semua ini aku lakukan untuk menggapai cita-cita, dan membahagiakan keluarga.
Hal yang menggembirakan, muazin atau pengurus Seoul Central Masjid, Bapak Hasan Sogimin adalah orang Indonesia yang berasal dari Yogyakarta dan sudah bekerja sebagai pengurus mesjid selama 5 tahun. Bapak Hasan pernah juga bekerja di pabrik sebelumnya, tetapi akhirnya diterima sebagai muazin dan tugasnya selain merawat dan menjaga agar mesjid tetap bersih, juga sering medapat tugas untuk mengumandangkan adzan.
Pukul 22.00 aku dan Marsya kembali ke apartemen. Kami merapihkan kamar dan menyiapkan bahan makanan untuk sahur. Sebelum tidur aku menggenapkan tilawah, sedangkan Marsya sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
Pukul 03.30, Marsya membangunkanku, “Ash, bangun!”
“Oh, Marsya. Jam berapa ini?” Tanyaku masih terasa mengantuk.
“Jam setengah empat. Nanti terlambat sahur lho!”
“Oh Marsya, gomawo1. Kalau begitu aku mau masak nasi dulu ya!” Aku bergegas pergi ke dapur. Namun Marsya mencegahku, “Tidak usah, aku sudah menyiapkan dengan lauknya. Kamu tinggal makan saja!”
“Oh Marsya, gamsahamnida2!” Aku begitu gembira dan tidak menyangka Marsya bisa memasak masakan yang enak.
Sebelum melaksanakan sahur, tidak lupa aku melaksanakan shalat Tahajud, karena seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, bahwa hendaklah kita menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan. Sementara itu, Marsya menyiapkan hidangan di meja makan.
Bahagianya Ramadhan pertama di Korea. Meski dengan suasana berbeda, tidak ada kolak, tidak ada cendol dan makanan-makanan khas Ramadhan lainnya. Tidak bisa makan bersama keluarga. Bahkan yang lebih sedihnya, kuliah akan sangat padat pada Bulan Ramadhan.

1,2 Terima kasih

Pagi hari aku berangkat ke kampus. Marsya nampaknya ada kuliah siang. Dia masih menyendiri di apartemen.
“Ash, mau berangkat ke kampus?” Tanya Marsya setelah melihatku mencari sepatu.
“Ne, waeyo?3”
“Ah, aniyo4. Hari ini pakai tas warna apa?”
“Tas warna hitam, wae?”
“Tidak, hanya ingin menyarankan. Kalau tasnya warna hitam, baiknya sepatunya warna hitam.”
“Ne, algetseumnida. Geurom, aku pergi dulu. Assalmu’alaikum.5” Aku pergi dengan terburu-buru. Marsya menjawab salamku, “Wa’alaikumsalam.”
. . .
Program Astronomi di Departemen Fisika dan Astronomi, Seoul National University (SNU), terletak di Gwanak-Gu, Seoul. Terletak di lantai 3 Gedung Nomor 19. Aku biasa menggunakan bus dari apartemen, kemudian berjalan kaki menuju Gedung Astronomi.
Kelas Astrofisika oleh Profesor Hyung Mok Lee dimulai setengah jam lagi, aku menghampiri Kae Na yang sedang sarapan di kantin.“Annyonghaseyô6, sendirian aja nih.”
“Annyeonghaseyo. Ashfiya ssi mwol mogeulkayo?5” Tanya Kae Na, mungkin dia tidak mengetahui kalau aku sedang berpuasa.
“Mianhamnida, jigeumeun geumsik hago issoyô6.”
“Jwesônghaeyô joneun môllayô, myotsi e mogeulsu isseoyo?6”

3 Ya, kenapa?
4 Ah, tidak.
5 Ya, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi dulu, Assalmu’alaikum.
6 Apa kabar?
7 Apa kabar juga. Asfiya mau makan apa?
8 Maaf, sekarang sedang puasa.
9 Maaf saya tidak tahu, jam berapa bisa makan?

“Ohu yeoseot si cheum e meogeulsu iseoyo,10”
“Geuraeyo11. Boleh aku bertanya? Mengapa sih seorang muslim itu harus berpuasa? Apalagi sebulan penuh,” Tanya Kae Na sambil melahap sup ayamnya.
“Tuhan tidak memerintahkan sesuatu yang tidak mengandung hikmah. Dia tidak mendapatkan apapun dari ketaatan hamba-hamba-Nya sedikitpun, dan tidak juga mendapatkan kerugian apapun dari pembangkangan mereka. Hikmah dan ketaatan kembali kepada umat muslim itu sendiri. Diantara hikmah atau manfaat puasa yaitu menyehatkan badan, tidak baik bukan kita terlalu menuruti keinginan perut untuk memakan segala makanan yang akan menimbulkan penyakit. Saat puasa, kita bisa mengontrol makanan yang masuk ke dalam perut kita.” Aku menjelaskan berharap Kae Na mengerti.
“Ne, algetseumnida. Apa hanya itu saja manfaatnya?”
“Sebenarnya ada banyak, dengan berpuasa kita juga bisa merasakan kelaparan seperti orang-orang yang kekurangan. Sehingga kita bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan. Berpuasa juga menahan kita dari nafsu seksual, dan banyak lagi manfaat lainnya, yang kalau dijelaskan kita tidak akan diizinkan masuk ke kelas Profesor Hyung Mok Lee.”
“Geuraeyo. Aku pikir umat muslim hanya menyiksa diri dengan berpuasa. Di lain kesempatan aku ingin menanyakan hal lainnya tentang Islam ya, karena keluargaku selalu beranggapan kalau orang Islam itu adalah teroris. Aku pikir tidak semua orang Islam seperti itu,” Kae Na begitu bersemangatnya berdiskusi denganku.
“Ne, juayo12. Aku senang bisa berdiskusi denganmu.”
Setelah Kae Na selesai sarapan kami bergegas ke kelas, karena kalau sampai Profesor Hyung Mok Lee mendahului kami, bisa-bisa kami diusir ke luar dan tidak diberi ampun.
Pukul 12.00 kuliah selesai, sebelum pulang Kae Na mengajakku bicara di depan kelas.
“Ada apa Kae Na?” Tanyaku penasaran.

10 Bisa makan kira-kira jam 6 malam.
11. Oh begitu.
12 Ya, oke.

“Jwesonghamnida, aku hanya mau bertanya. Apakah kamu yakin Marsya seorang muslim sama sepertimu?”
“Ne, waeyo?”
“Aniyo. Jamkanman, aku merasa pernah melihatnya di gereja. Mungkin aku salah melihat orang. Mianhae13.”
“Ne, gwencanayo14. Mungkin ada orang yang mirip dengan Marsya.”
Saat kami sedang mengobrol, tiba-tiba ada pengumuman bahwa ada mahasiswa yang membawa pistol dan benda tajam di kampus. Mahasiswa tersebut dicurigai merupakan komplotan teroris yang selama ini dicari.
Kami dikumpulkan di Aula SNU, petugas satpam mulai menggeledah seluruh tas mahasiswa, tidak ada mahasiswa yang bisa lari dan meninggalkan kampus.
Satpam mulai menggeledah sebuah tas hitam. Mirip seperti punyaku, dan ternyata mereka mememukan sebuah pistol dan beberapa benda tajam lainnya. Satpam mengacungkan tas itu, “Katakan siapa yang memiliki tas ini?!”
Saat aku hendak mengacungkan tangan. Seseorang mengacungkan tangan terlebih dahulu,“Itu milik saya Pak!“ Ternyata pemilik tas itu adalah Kae Na. Aku baru menyadari kalau tas kami sangat mirip, hanya berbeda merek saja.
Kae Na disuruh menghadap ke kantor. Aku mengikutinya. Tidak ada yang percaya bahwa benda-benda itu milik Kae Na. Aku mencoba membela Kae Na dengan sekuat tenaga, ayah Kae Na yang juga seorang dosen SNU ikut membantu. Akhirnya, karena tidak ada bukti bahwa Kae Na pemilik benda-benda itu, maka Kae Na dibebaskan. Dicurigai ada seseorang yang menyimpan benda-benda itu di dalam tasnya.
Kae Na menghampiriku sebelum pulang,“Ashfiya ssi, gamsahamnida.”
“Terima kasih untuk apa?”

13 Ah tidak. Tetapi aku merasa pernah melihatnya di gereja. Mungkin aku salah melihat orang. Maaf.
14 Ya, tidak apa-apa.

“Kamu telah menjadi saksi, dan meyakinkan satpam bahwa aku tidak bersalah.”
“Kamu memang tidak bersalah kok, tenang saja.”
Kae Na nampak tenang, padahal sebelumnya dia sangat tegang. Aku tidak habis pikir, siapa orang yang tega menejerumuskan Kae Na. Jiwa detektifku mulai muncul. Jangan-jangan target sebenarnya adalah aku? Bukankan tasku sama dengan tas Kae Na? Bahkan sangat susah dibedakan, karena warna dan modelnya sama? Mungkinkah pelakunya salah memasukan, karena tas kami berdekatan? Ya Rabbi lindungilah hamba dari bencana fitnah.
Selesai pemeriksaan aku melaksanakan shalat, mengadukan semuanya pada Sang Pemilik Hati. Setelah itu, aku kembali ke kampus untuk mengerjakan tugas di perpustakaaan. Saat itu perpustakaan nampak sepi pengunjung.

Aku duduk di meja yang disediakan sambil mengerjakan tugas. Entah mengapa aku merasa seperti ada seseorang yang membuntuti. Namun aku menghiraukannya. Mungkin hanya perasaan saja, karena terlalu banyak menonton film detektif. Sehingga selalu merasa dunia penuh dengan misteri.
Setelah selesai mengerjakan tugas, aku pulang ke apartemen.
Pintu kamar nampak terbuka, aku bergegas masuk. Segera ku telpon Marsya,“Assalamu’alaikum. Yeobeoseyo15, Marsya kamu di mana?”
Marsya menjawab dengan nada yang sedikit aneh, “Aku di Restauran Umi Khadijah. Mianhae, tidak mengabarimu. Aku takut sendirian di apartemen. Bukankah sebentar lagi buka puasa? Kamu ke sini aja Ash!”
15 Halo.
“Ne, algetseumnida. Aku segera ke sana,” Aku bergegas mengayuh sepeda menuju Restauran Umi Khadijah. Aku berencana untuk berbuka puasa di sana bersama Marsya.
Sepuluh menit perjalanan menggunakan sepeda, lumayan lelah dan berkeringat. Marsya nampak sedang duduk membaca Koran.
Alarm adzan dari handphoneku berbunyi. Pertanda saatnya berbuka puasa. Alhamdulillah aku bersyukur masih bisa merasakan indahnya bulan Suci Ramadhan, meski di negeri orang dan tidak bersama keluarga.
“Ashfiya ssi, mweol meogeul kayo?” Tanya Umi Khadijah setelah kami melaksanakan shalat Magrib.
“Bokeumbab juseyo. Marsya ssi, mweol meogeul kayo?16” Tanyaku pada Marsya.
“Champung juseyo.17”
“Ne, algetsuemnida. Muoseul masigeseumnika?18” Umi kembali bertanya.
“Ca hago oraenjijuseu juseyo.19”
Umi mengangguk,“Ne, algetseumnida. Jamkanman gidariseyo.20”.
Aku ikut mengangguk juga,“Ne, gamsahamnida.”
Alhamdulillah buka puasa pertama di Restauran Umi Khadijah sungguh nikmat. Umi meliburkan para pegawainya pada hari pertama bulan Ramadhan. Besok aku sudah mulai bekerja lagi, dan untungnya selama bulan Ramadhan Restaurannya buka setelah shalat Ashar sampai sahur. Bulan Ramadhan Restaurannya cukup ramai, umat muslim Korea berbondong-bondong ke Restauran Umi untuk menikmati hidangan Ramadhan, dan yang paling membuatku bahagia, Umi menyediakan kurma, Subhanallah nikmat rasanya.


16 Nasi goreng. Marsya mau makan apa?
17 Champong (makanan khas korea)
18 Ya, saya mengerti. Mau minum apa?
19 Orange juice.
20 Ya saya mengerti. Silakan tunggu sebentar.

Pulang berbuka puasa, aku dan Marsya melaksanakan shalat Tarawih bersama Umi Khadijah. Marsya pulang terlebih dahulu ke apartemen, karena aku ada keperluan sebentar ke supermarket untuk membeli sedikit cemilan dan buah-buahan.
Turun dari Bus Kota, aku berjalan menuju apartemen. Trotoar nampak sepi. Tiba-tiba segerombolan pria menyerang dari belakang, untunglah aku sempat belajar ilmu bela diri Thifan, salah satu ilmu beladiri dari China. Dipelajari di pesantren-pesantren dan masyarakat muslim lainnya. Sehingga aku dapat menahan serangan gerombolan itu. Mereka akhirnya melarikan diri setelah aku membuat mereka babak belur.
Meski dapat menahan serangan gerombolan itu, tetap saja seluruh badanku lebam bahkan penuh luka memar. Aku bangun perlahan. Dengan langkah tertatih, aku berjalan menuju apartemen dan meminta bantuan Marsya untuk mengobati lukaku.
Pukul 02.00 aku terbangun dan melaksanakan shalat Tahajud, tangis yang membuncah tak dapat kucegah saat itu. Rasa yang bercampur aduk, sakit, rindu, dan senang, semuanya terasa sampai akhirnya meledak menjadi air mata yang meleleh tiada henti. Marsya terbangun, dia yang saat itu menenangkanku.
Marsya kemudian menyiapkan masakan untuk sahur. Sahur kali ini terasa begitu nikmat, apalagi bisa shalat Subuh berjamaah bersama Marsya, rasa syukur yang tiada terkira.
Pagi-pagi sekali aku berangkat ke kampus. Udara begitu dingin, aku memakai syal ungu pemberian Ibu. Saat itu aku sangat merindukannya.
Kae Na nampak sedang membaca buku di kantin, aku menghampirinnya.
Profesor Bon Chul Koo nampaknya tidak bisa datang untuk mengajar Radio Astronomi. Penggantinya Mr. Yong Sung Park akan datang terlambat. Aku punya waktu untuk membaca Al Quran.
Setelah kuliah selesai, Kae Na kembali mengajakku mengobrol. “Oia, Ash. Aku mendengar dari sumber yang terpercaya bahwa Marsya bergabung bersama Black Member. Pekerjaan mereka membuat kerusuhan di Seoul, bahkan banyak nyawa yang hilang dan tidak ada orang yang berani melawan mereka. Makanya, aku yakin Marsya itu bukan seorang muslim” Penjelaskan Kae Na membuatku tercengang.
“Aku yakin Marsya tidak mungkin terlibat hal seperti itu, dan sekali lagi aku tegaskan bahwa Marsya adalah seorang muslim. Aku tidak menyangka kamu bisa menjelek-jelekan Marsya. Sudah cukup Kae Na, aku pikir kita bisa berteman baik. Mianhae, aku tidak dapat membiarkan ada orang lain memfitnah Marsya. Aku pergi Kae Na, Aku harap kamu tidak lagi berfikiran buruk tentang Marsya.” Aku berlalu pergi meninggalkan Kae Na.
Aku tidak habis fikir mengapa Kae Na menjelek-jelekan Marsya. Aku tidak boleh terlalu dekat denganya, disamping aku belum terlalu mengenalnya, juga dia bukan seorang muslim. Bagaimana jika dia ingin mengadudomba aku dan Marsya? Aku harus lebih hati-hati bergaul dengan orang Korea.
. . .
Ramadhan di Korea terasa begitu panjang, semoga saja tidak cepat berlalu. Sudah menginjak malam ke dua puluh satu. Aku berencana beri’tikaf bersama keluarga Umi Khadijah. Mudah-mudahan bisa mengambil jatah bolos kuliah.
Setelah menikmati indahnya pemandangan Seoul sore hari, aku pergi ke Myeong dong, sebuah wilayah belanja yang tetap dipadati pengunjung sekalipun pada hari libur. Biasanya aku pergi ke tempat belanja yang lebih murah, yaitu Pasar Dongdaemun yang merupakan pasar pakaian terbesar di Korea dan sangat terkenal oleh para wisatawan, dan Pasar Namdemun yang menjual hampir semua jenis barang kebutuhan: pakaian, peralatan dapur, elektronik, cindera mata, barang-barang seni tradisional, makanan, sepatu, aksesoris, barang-barang impor, dan banyak lagi barang yang dijual di sana. Namun karena kali ini ada uang lebih, sehingga aku putuskan untuk pergi belanja ke Myeong dong.
Aku hanya membeli satu stel pakaian, yang longgar dan tertutup, dan tidak lupa membeli makanan cemilan. Yang paling sering kubeli adalah Welch’s Grape Juice, minuman yang sudah dijamin kehalalannya, dan Lotte Pepero, makanan ringan yang juga sudah terjamin kehalalannya.
Selesai berbelanja aku kembali pulang ke apartemen. Namun, Marsya tidak ada di sana. Mungkin dia ada keperluan sebentar. Tak lama ada telpon berdering.
“Yeobeoseyo, Ashfiya ssi?”
“Ne. Kae Na ssi? waeyo?” Tanyaku heran ketika tahu Kae Na yang menelpon.
“Kamu bisa ke depan gereja di pusat Kota Seoul? Ada yang mau aku tunjukkan padamu.”
“Ne, algetseumnida. Aku segera ke sana.”
Aku bergegas naik Bus Kota menuju ke gereja itu. Memang banyak pertanyaan yang muncul dalam hati, namun aku menahannya. Sepuluh menit bus berhenti tak jauh dari gereja. Aku berjalan ke sana. Nampak Kae Na sudah menunggu.
“Ashfiya, akhirnya kamu datang. Tunggu di sini, aku akan menunjukan sesuatu, kau perhatikan orang-orang yang keluar dari gereja itu,” Kae Na berlalu pergi. Aku memperhatikan orang-orang yang keluar dengan seksama. Rupanya hari itu ada misa di gereja. Namun, betapa kagetnya, ketika seseorang menghantam kepalaku dari belakang hingga jatuh pingsan.
Samar-samar aku membukakan mata. Dihadapanku sudah berdiri segerombolan pria, nampaknya mereka yang menghajarku malam itu. Tangan dan kaki tak dapat kugerakkan, mereka mengikatku di sebuah tiang. Mereka nampak tertawa puas ketika melihatku meringgis kesakitan.
“Kita apakan anak ini?” Tanya salah seorang gerombolan pria itu.
“Nona menyuruh kita menyiksanya. Lalu membunuhnya perlahan, hahaha…” Ucap salah seorang lagi dengan terbahak-bahak.
Badanku menggigil ketakutan. Mungkinkah memang takdirku meninggal seperti ini?, di bulan Suci Ramadhan yang penuh berkah dan pada hari di mana pintu neraka ditutup? Ya Rabb, aku memohon yang terbaik pada-Mu. Aku bergumam dalam hati, air mata meleleh tanpa dapat kucegah. Hanya pertolongan Allah lah yang kuharapkan saat itu.
Salah satu dari mereka memasukan makanan ke mulutku dengan paksa. padahal belum saatnya berbuka puasa. Nampaknya mereka tahu aku sedang melaksanakan puasa. Sekuat apapun aku menjegah, makanan itu tetap saja masuk ke dalam mulut. Aku beristigfar, dan meyakini puasa tidak batal karena hal itu. Sementara pria-pria itu hanya tertawa terbahak –bahak.
Aku terus berfikir. Siapa orang yang tega melakukan ini? Namun, sebelum ada yang menghantam kepalaku, Kae Nan menelpon dan meminta bertemu di depan sebuah gereja. Mungkinkan semua ini ulah Kae Na? Mengapa dia melakukan ini padaku?
Orang-orang yang menculikku nampak sedang lengah. Aku berusaha melepaskan tangan yang diikat dengan menggunakan gigi. Sulit memang hingga aku hampir menyerah, namun talinya terputus juga. Kemudian melepaskan kaki yang diikat, dan akhirnya bisa terlepas juga. Aku berjalan perlahan tanpa menghasilkan bunyi sedikitpun. “Krek!” Tidak sengaja aku menginjak tumpukan sampah plastik. Mereka menyadari nya. “Hei! Jangan kabur! Kejar dia!” Teriak salah seorang dari mereka sambil mengerjarku. Dengan tenaga yang tersisa aku berlari sekencang mungkin, sampai ke sebuah jalan raya. Mereka terus mengejar, namun tiba-tiba seseorang terlihat melambaikan tangan,“Ashfiya! Cepat lari!” Ucap wanita itu sambil berteriak. Setelah kuamati ternyata wanita itu adalah Kae Na. Ia menghampiriku.
“Ashfiya ssi, gwencana?21 Kelompok Black Member lah yang menculikmu. Ayo kita pergi dari sini!”
“Ne, gwencanayo,” Ucapku masih bingung harus mempercayai Kae Na atau tidak.
“Ashfiya awas!” Teriak Kae Na sambil mendorong badanku ke samping. “Door!!!” Peluru pun melesat menuju tubuh Kae Na. “Bruk!” Tubuh Kae Na tergeletak di jalan, ia tertembak oleh salah satu pria yang menculikku. Mereka pun melarikan diri setelah menembak Kae Na.
Aku berteriak histeris, “Kae Na!!!” aku memeluk tubuh Kae Na. “Kae Na, kenapa kamu lakukan ini? Harusnya aku yang tertembak bukan kamu!” Tak terasa air mataku meleleh tiada henti.
“Kamu adalah sahabatku Ash, aku tidak akan membiarkan kamu mati. Percayalah padaku, Marsya itu tidak sebaik yang kamu pikirkan.”
“Iya Kae Na, aku percaya. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan ini!”
“Aniyo. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku, dan aku ingin kamu mengabulkan satu permintaan, sebelum aku mati Ash”
“Anyi!22 Kamu tidak boleh mati Kae Na!”

21 Ashfiya, tidak apa-apa?
22 Tidak!

“Tolong Ash, bantu aku mengucapkan syahadat.”
“Subhanallah, Walhamdulillah, Walaillahaillallah, Allahuakbar! Baik Kae Na dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku akan menuntunmu mengucapkan kamilat syahadat,” Aku sedikit gemetar, tangis bahagia bercampur sedih mengalir tiada henti.
Dengan terbata Kae Na mengikutiku mengucapkan dua kamilat syahadat. Tak lama kemudian tubuh Kae Na nampak pucat dan sangat dingin seperti es. “Innalillahi wainnaillaihi raaji’un.” Kae Na telah pergi menghadap Sang Khalik sebagai muslimah. Bahagia bercampur sedih, itulah yang aku rasakan saat kepergian Kae Na.
Kasus pembunuhan Kae Na sudah ditangani polisi. Gerombolan Black Member itu tidak bisa lagi berkutik, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan pada Kae Na. Aku menuju kantor polisi pusat Kota Seoul untuk menjadi saksi, dan begitu terkejutnya aku saat melihat Marsya dalam tahanan. Dia berpakaian hitam, dengan lengan pendek, sehingga tato di kedua lengannya dapat terlihat. Kelopak matanya dan bibirnya berwarna hitam. Aku menyadari, Marsya dan kelompoknya ternyata para pemuja setan. Yang rela melakukan apapun agar Islam dan dunia ini hancur, semoga Allah melaknat mereka.
Setelah pindah dari apartemen milik Masrya, kuputuskan untuk tinggal di Itaewon, agar lebih berdekatan dengan Mesjid Raya Seoul. Lagi pula tidak terlalu jauh ke kampus Seoul National University
Aku tidak menyangka Marsya bisa berpura-pura sebagai seorang muslimah, padahal entah apa sebenarnya agamanya, tidak ada yang tahu. Aku menyesal begitu mempercayainya, dan menaganggapnya sebagai saudara. Namun, dia malah menikamku dari belakang, sungguh rasa sakitnya tiada terkira. Aku malah mengabaikan nasehat dari Kae Na, yang jelas-jelas baik dan berkata jujur.
Sungguh Ramadhan kali ini penuh dengan kejutan, penuh dengan hikmah yang tidak mungkin terlupakan. Semoga aku dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang terjadi, dan kupinta pada-Mu Ya Rabb, terimalah Kae Na disisi-Mu sebagai seorang muslimah, dan pertemukanlah kami di Syurga-Mu, amin.
(dimuat juga di blogku Purple Muslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar