Minggu, 27 Maret 2011

Cerpen "Biarkan Takdir Memilih"

Biarkan Takdir Memilih
Angin menerbangkan daun-daun di halaman rumah. Aku duduk di teras sambil menikmati hangatnya mentari pagi. Suasana yang tidak pernah aku dapatkan di negeri sakura, tempatku menimba ilmu. Namun sekarang, suasana seperti ini bisa aku nikmati setiap pagi, karena aku sudah kembali ke negeri yang kurindukan.
Ibu memanggilku, “ Linda, sarapan dulu. Ibu sudah bikin opor ayam kesukaanmu”.
“Iya Bu sebentar”, ucapku segera masuk ke dalam rumah.
“Kak, makanan di Jepang enak-enak nggak?”, tanya Lida adikku. Membuka obrolan di meja makan.
“Ya gitu deh, Kakak suka makanan Jepang, tapi yang halal. Jadi di tempa-tempat tertentu saja kita bisa menikmatinya”, ucapku sambil melahap opor ayam.
“Bagaimana kuliahmu, Lancar?”, tanyaku.
“Alhamdulillah, kuliah jurusan IPS nggak akan sesulit kuliah jurusan IPA”, jawab Lida.
“Ada rencana ngelanjutin S2 nggak, tahun ini kamu lulus kan?”, aku bertanya lagi.
“Enggak ah, mau nikah dulu. Lagian Lida nggak terlalu terlalu tertarik ngelanjutin kuliah kayak Kakak”, jawab Lida.
“Beda ya, yang udah mau nikah, hehe”, ucapku meledek Lida.
“Kakak duluan kali, masa udah S2, udah dapet pekerjaan tetap, masih belum mau nikah juga”, ucap Lida menyindirku.
“Iya, doain aja Kakak udah minta Umi Firda, guru ngaji Kakak untuk mencarikan jodoh. Makanya besok anter Kakak di foto ya. Buat dikasihin ke Umi Firda”, ucapku menjelaskan.
“Duh, ternyata udah siap nih. Iya, nanti Lida anter deh, sekalian Lida juga mau di foto buat keperluan wisuda”, ucap Lida menyanggupi.
“Anak-anak Ibu ini sudah besar, nggak kerasa Ibu membesarkan kalian berdua. Iya Linda, cepetan nikah, Ibu udah nggak sabar pengen nimang cucu”, ucap Ibu berkomentar.
“Iyah, ayah juga. Udah nggak sabar, kalo Linda nikah, Lida juga cepet nyusul ya”, ayah menambahkan.
“Ayah sama Ibu ini, Linda belum nikah juga, udah mikirin cucu. Makanya doain biar cepet dapet jodoh”, ucapku membuat semuanya tersenyum.
Selesai sarapan. Aku pergi untuk mengajar di sebuah universitas di Jakarta. Mungkin, aku dosen termuda di sana. Tapi aku tetap semangat dan tidak minder, aku selalu belajar dari dosen-dosen yang sudah berpengalaman, dan dengan senang hati mereka membimbingku.
Agak berat memang menyandang status dosen lajang yang baru berusia 25 tahun. Banyak yang menanyakan, mengapa aku tidak kunjung menikah. Ibu dan Ayah juga sempat khawatir, karena aku lebih menginginkan melanjutkan kuliah ketimbang mencari jodoh. Sebenarnya, ketika lulus S1 aku sudah berencana menikah, tapi belum ada ikhwan yang mau berta’aruf, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jepang saja, sambil menunggu jodoh itu datang.
Kadang aku berfikir, apakah karena penampilan sehingga tidak ada ikhwan yang mau menikah denganku. Tapi aku yakin, ada ikhwan yang tidak menghiraukan soal itu. Namun, aku harus bersabar menunggu ikhwan seperti itu datang melamar. Mungkin berbeda dengan adikku Lida, sudah ada lima orang yang datang ke rumah ingin melamarnya, meski dia masih kuliah. Namun, karena Lida belum sreg karena alasan agama, kelima pria itu ditolaknya.
Lida gadis yang cantik, feminim dan anggun. Tak heran banyak ikhwan yang mau melamarnya. Sedangkan aku, gadis berkacamata, berkulit sawo matang, dan tidak menghiraukan penampilan. Bukan aku tidak bersyukur, tetapi apa salah jika seseorang mempunyai kekurangan fisik. Aku yakin ikhwan yang tidak menghiraukan semua itu ada di dunia ini.
Setelah mengajar, aku bertemu dengan Lida untuk di foto. Aku melepas kacamata ketika di foto, dan kami harus menunggu satu jam untuk mengambil foto yang telah jadi.
“Lida, kata ibu sudah banyak ikhwan yang datang ke rumah melamarmu. Kenapa enggak diterima aja, emangnya enggak ada yang cocok ya?”, tanyaku membuka obrolan. Kami makan siang bersama di sebuah Mall.
“Ah Kakak ini bisa aja, enggak banyak kok. Lida belum sreg aja kalo belum satu fikiran, lagian Lida mau minta carikan ke guru ngaji Lida kan Kak?”, ucap Lida menjelaskan.
“Iya, kalo guru ngajimu udah nemuin ikhwan yang mau sama kamu, ya harus diterima dong”, ucapku.
“Lida kan mau nungguin Kakak dulu”, ucap Linda membuatku terdiam.
“Enggak apa-apa kok, kalo kamu mau duluan”, ucapku menjelaskan.
“Bener nih? Hehe. Udah ah, jangan ngebahas itu lagi, Lida lagi nggak mut ngomongin itu”, ucap Linda lagi-lagi membuatku terdiam.
Satu jam sudah kami makan di café. Segera kami mengambil foto yang telah jadi. Lida dan aku langsung menyimpan fotonya ke dalam tas, tanpa memeriksanya terlebih dahulu, karena aku buru-buru hendak pergi ke rumah Umi Firda untuk memberikan fotonya. Aku berpisah dengan Lida, dia segera pulang ke rumah setelah mengambil foto.
Sesampainya di rumah Umi Firda, aku langsung mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam, Linda ayo silakan masuk”, ucap Umi membukakan pintu.
“Afwan ya Umi, Linda ganggu”, ucapku.
“Enggak apa-apa, Umi lagi enggak ada kerjaan kok. Oia, tumben ke sini sore-sore”, ucap Umi penasaran.
“Ini Umi, mau ngasihin foto yang Umi tanyain kemaren”, ucapku menjelaskan.
“Oh, iya. Umi lupa, ya sudah nanti Umi kabari secepatnya kalo ada ikhwan yang cocok”, ucap Umi sambil tersenyum.
“Iya Mi, syukran ya, Linda nggak bisa lama-lama sudah di tunggu Ibu sama Ayah di rumah. Katanya mau pergi ke rumah saudara”, setelah menyerahkan foto aku pamit pulang.
“Ya sudah kalo begitu, salam buat keluarga ya”, ucap Umi sambil mengantarkanku ke pintu.
“Insya Allah Linda sampaikan, assalamu’alaikum”, ucap sambil menyalami Umi.
“wa’alaikumsalam, hati-hati di jalan”, ucap Umi membalasnya.
Sekarang aku tinggak menunggu kabar dari Umi, semoga saja secepatnya.
. . .
Satu minggu berlalu, akhirnya ada seorang ikhwan dan keluarganya yang datang ke rumah.
“Assalamu’alaikum”, salah satu keluarganya mengentuk pintu rumah.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk”, ucap Ibu ramah.
“Maaf, benar ini rumahnya Meylinda?”, tanya salah satu dari mereka.
“Iya benar, mari silakan duduk”, ucap ayah.
Bahagia rasanya hati ini, mendengar ada ikhwan yang datang ke rumahku bermaksud ta’aruf.
“Ini Meylinda”, Ibu menunjukkan tangannya ke arahku.
“Oh bukan yang ini Bu, Meylinda yang kami maksud tidak memakai kaca mata”, ucapnya membuat kami bingung.
“Mungkin maksud bapak Meylida, yang ini bukan?”, Ibu akhirnya menunjuk adikku Lida.
“Ya benar, maksud kami anak Ibu yang ini”, keluarganya membenarkan.
Ternyata mereka mencari Meylida bukan Meylinda. Rasa kecewa kembali hadir menghantuiku. Ikhwan itu bermaksud ta’aruf dengan Lida bukan denganku. Guru ngajinya Lida yang mencarikan ikhwan itu. Nampaknya Lida juga ada kecenderungan dengan ikhwan itu, aku bisa melihat dari sikapnya.
Keluarga kami belum memberikan keputusan untuk menerima ikhwan itu atau tidak. Ikhwan itu akan datang bersama keluarganya lagi, apabila Lida setuju untuk berta’aruf dengannya.
Kami sekeluarga akhirnya berembug.
“Bagaimana Lida, kamu mau berta’aruf dengan pria itu?”, tanya ibu membuka obrolan di ruang keluarga.
“Lida mau istikharah dulu Bu, tapi memangnya Ibu setuju kalo Lida ta’aruf sama dia?”, Lida balik bertanya.
“Ibu sih setuju-setuju saja, kalo kamu ada kecenderungan sama pria itu. Tapi, gimana dengan Kakakmu?”, ucap Ibu membuatku terdiam sejenak.
“Iya, biarlah Kakakmu menikah duluan”, ucap ayah menambahkan.
“Kalo Linda sih, enggak apa-apa Bu. Linda ikhlas kalo Lida dihitbah dan menikah duluan. Kasian Lida Bu, masa Cuma gara-gara aku, pernikahannya ditunda. Padahalkan udah ada ikhwan yang sholeh ngelamar”, ucapku berkomentar.
“Ya sudah kalo begitu, tinggal kamu istikharah dulu Lida”, ucap Ibu membuat Lida terlihat bahagia.
Aku harus rela jika Lida menikah duluan. Toh kalau pun Lida mau menungguku, mau sampai kapan?. Belum tentu dalam waktu dekat ada ikhwan yang mau berta’aruf denganku.
Namun yang membuatku heran, bukankah Lida pernah mengatakan bahwa dia belum meminta dicarikan jodoh kepada guru ngajinya. Mengapa sudah ada pria yang datang?. Mungkin saja setelah mengatakan itu, Lida langsung meminta guru ngajinya untuk mencarikan jodoh. Semoga saja Lida mendapatkan jodoh yang sholeh yang benar-benar menyayanginya.
Seminggu lagi pria itu akan datang ke rumah, Lida sudah tidak sabar menantinya. Dia pun telah beristikharah meminta petunjuk padaNya.
“Ayah, Ibu, Kakak, kemaren Lida sudah mendapat jawabannya”, ucap Lida membuka obrolan di meja makan.
“Oh ya, jawabannya apa?”, tanya ibu penasaran.
“Abis shalat istikharah, Lida tertidur, trus Lida bermimpi kalo pria itu tinggal di rumah kita. Itu berarti Allah meridhai Lida nikah sama dia”, Lida menceritakan dengan penuh semangat.
“Ya sudah kalau kamu yakin, semoga ini memang yang terbaik”, ucap ibu membuat Lida tersenyum.
“Amin”, nampaknya Lida semakin yakin dengan pilihannya.
Tiba-tiba Umi Firda menelpoku, “Assalamu’laikum…”.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Umi? Tumben pagi-pagi udah nelpon?”, tanyaku heran.
“Gimana ikhwannya Lin? Dua haru yang lalu ada ikhwan yang datang ke rumah kan?, udah istikharah belum?, afwan Umi nggak bisa dateng, soalnya ada keperluan ke luar kota bersama suami”, ucap umi membuatku bingung.
“Maksudnya ikhwan yang mana Mi?”, tanyaku heran.
“Itu, Nak Rafi, sudah datang belum?”, pertanyaan Umi membuatku kaget bukan main.
“Rafi? Maksud Umi Rafi itu ikhwan yang mau berta’aruf denganku?”, tanyaku masih tidak percaya.
“Iya, sudah datang belum?”, Umi kembali bertanya.
“Ya sudah, Umi ngobrolnya nanti lagi ya. Nanti Linda dateng ke rumah Umi”, ucapku menyudahi obrolan.
“Ya sudah, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”, jawabku.
Aku tak dapat mengatakan sepatah katapun saat itu. Rafi, pria yang akan melamar adikku, ternyata dia adalah pria yang seharusnya berta’aruf denganku. bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengatakannya pada Lida, dia pasti akan kecewa. Sebenarnya memang aku yang ceroboh, ternyata fotoku tertukar dengan foto Lida.
Aku memutuskan untuk diam, biarlah adikku dulu yang mendapatkan jodohnya. Aku akan menjelaskan pada Umi Firda, semoga dia menngerti.
. . .
Pria itu akhirnya datang lagi ke rumah, bermaksud untuk melamar Lida. Kami sekeluarga menyambut dengan ramah. Mereka mengobrol banyak dengan ayah dan ibu, Lida hanya diam mendengarkan. Sementara aku memilih sibuk di dapur saja.
“Jadi, bagaimana Bu, kira-kira kapan tanggal pernikahan yang tepat untuk anak-anak kita?”, tanya ayah Rafi langsung ke intinya.
“Mungkin sebelum Lida di wisuda saja, bagaimana?”, ayah balik bertanya.
“Bukannya, Lida sudah lulus S2 di Jepang?”, tanya ayah Rafi membuat Ayah dan Ibu kebingungan.
“Lida itu baru mau lulus Sarjana semester ini Pak, yang S2 di Jepang itu anak kami yang satu lagi Meylinda”, ucap ibu membuat Rafi dan keluarganya juga bingung.
Akhirnya keluarga Rafi baru menyadari ternyata foto yang diberikan Umi Firda pada Rafi adalah foto Lida. Sedangkan yang mereka maksudkan untuk berta’aruf dengan Rafi adalah aku. Ibu kemudian memanggilku untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
“Maaf sebelumnya, memang foto kami tertukar. Foto yang saya berikan pada Umi Firda adalah foto Lida. Saya juga baru menyadarinya setelah Umi Firda menelpon kemarin. Saya begitu kaget dengan apa yang terjadi. Tetapi, saya ikhlas jika Rafi dan Lida sudah cocok dan meneruskan proses ta’aruf ini. Lagi pula Rafi sudah menghitbah Lida, dan tinggal menentukan tanggal pernikahan”, ucapku menjelaskan.
Semua orang di ruang tamu hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasanku. Aku kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Air mata meleleh tidak terasa, mungkin memang Allah belum mengirimkan mujahid terbaiknya, aku masih harus bersabar menunggu kedatangannya.
Lida akhirnya menikah dengan Rafi, aku sudah mengira Rafi lebih memilih Lida yang cantik dan anggun ketimbang aku yang tidak pernah memperhatikan penampilan. Sebulan setelah pernikahan mereka, akhirnya Allah mendatangkan seorang mujahid terbaiknya untukku. Namanya Fariq, seorang dosen salah satu Universitas di Jakarta. Dengan mempunyai profesi yang sama, kami lebih nyambung, dan mudah untuk menyesuaikan diri.
Satu tahun setelah menikah, aku dan suami dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu. Namun, kebahagiaan tidak dirasakan adikku Lida, setelah tiga bulan pernikahannya dengan Rafi. Rafi meninggal karena kecelakaan motor. Diusia semuda itu, adikku harus menjadi janda. Dia sangat sedih dan terpukul, kami sekeluarga selalu menghiburnya, karena disetiap musibah yang terjadi tentu akan ada hikmahnya.
Tasikmalaya, 30 January 2010

1 komentar:

  1. subhanallah, bagus jg cerita nya
    tapi apa di dunia nyata bisa terjadi sprt tu ya?

    BalasHapus